Categories
Bisnis

Kita VS Pasar

Sebenernya judul yang enak adalah “It Has Always Been Us Versus The Market”. Perlu saya ceritakan terlebih dahulu kalau saat ini pasar saham Indonesia sedang dalam kondisi bearish – kondisi dimana valuasi pasar menurun secara terus menerus dalam periode yang cukup panjang. Kondisi ini adalah bentuk yang semakin buruk dari artikel yang pernah saya tulis tanggal 12 Februari 2020 kemarin.

Tiga bulan pertama di tahun 2020 ini memberikan saya pengalaman yang cukup nampol sebagai investor saham pemula. Saya baru mulai masuk pasar saham pertengahan 2019 & di 2020 ini bisa dikatakan pasar krisis yang cukup parah. Sebagai info, IHSG pada saat pembukaan hari pertama 2020 adalah di angka Rp. 6.313,-. Saat artikel ini ditulis, IHSG sedang berfluktuasi di kisaran Rp. 4.900-an. Saya pernah mengalami penurunan IHSG beberapa kali dalam setahun ini : pada saat heboh pilpres, pada saat sidang bawaslu dan yang paling parah adalah yang sekarang.

Krisis yang saat ini terjadi, khususnya di Indonesia dikarenakan 2 hal utama : 1. isu virus corona, 2. bandar saham diproses hukum. Isu pertama menyebarkan teror sehingga orang-orang lebih mencari safe haven / instrumen investasi yang lebih aman walaupun return kecil. Isu kedua membuat pasar saham menjadi sepi walaupun sebenarnya proses hukum bandar ini akan berimpact bagus pada IHSG di masa yang akan datang, hanya saja munculnya sayang sekali berbarengan dengan isu pertama, sehingga memperburuk kondisi.

Investasi saham / pasar modal itu pada dasarnya adalah investor membeli perusahaan berdasarkan penilaian fundamental & mendapatkan keuntungan / return apabila perusahaan yang kita beli itu untung, yang biasa kita kenal dgn dividen. Seiring dengan perkembangannya, return dari investasi saham ada 2 jenis : 1. dividen, 2. capital gain. Capital gain ini yang pada akhirnya menjadi lebih seksi karena biasanya selisih harga jual & beli saham ini secara persentasi return lbh tinggi dibanding dividen. Nah ada di beberapa kasus, keuntungan dari capital gain ini menjadi sangat besar karena adanya campur tangan bandar yang sengaja borong saham untuk meningkatkan harga atau sengaja lepas saham dalam jumlah besar agar harga turun. Pada saat terjadi harga turun / naik secara signifikan yang ditentukan melalui mekanisme pasar, investor ritel apalagi pemula biasanya sangat sulit untuk tenang & mengontrol emosi untuk menentukan langkah yang tepat.

Contoh di saat krisis sekarang ini, tidak peduli perusahaan bagus & profitable, kalau pasar sedang tidak kondusif seperti sekarang, harga-harga saham pasti akan jatuh. Rugi sudah hampir pasti walaupun masih floating loss. Apa yang harus kita lakukan? Kalau saya, pada intinya adalah bagaimana menimalkan resiko kerugian agar tidak semakin besar & bagaimana menyusun strategi agar bisa membalikan kerugian itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Seperti yang kita semua tahu, bahwa kondisi pasar saham kita saat ini jatuh dikarenakan isu-isu eksternal, bukan isu-isu internal emiten / perusahaan & kondisi ekonomi indonesia secara makro pun sedang dalam kondisi yang baik-baik saja (tidak sedang krisis menjelang bangkrut). Sehingga dengan catatan itu, harapannya adalah begitu isu korona selesai & proses bersih-bersih bandar selesai, pasar akan kembali normal.

Jadi memang kita sebagai investor ritel akan selalu dihadapkan pada kondisi kita berhadapan dengan market. Dimana selalu ada pilihan untuk go with the flow atau defensif. Kondisi saat ini memaksa saya untuk lebih difensif dimana saya harus meminimalkan kemungkinan loss yang lebih besar & memegang cash yang lebih banyak setidaknya hingga market kembali stabil. Dan nanti pada saat stabil, selalu ada pilihan apakah akan masuk kembali dan mengoptimalkan return atau tetap defensif untuk jaga-jaga apabila market kembali jatuh. Kita tidak akan pernah bisa tahu apakah market yang jatuh, sudah di titik terendah atau masih akan menjadi lebih rendah lagi.

Semoga dampak krisis ini tidak menjadi terlalu besar dan yang paling penting adalah recoverynya bisa dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Categories
Bisnis

Optimisme di 2020?

Sudah sejak akhir tahun 2019 kemarin rasanya saya belum menemukan rasa optimis / semangat dalam menjalankan bisnis di tahun 2020. Mungkin karena setelah terjun ke bisnis pasar modal, saya jadi serinh terekspose oleh berita-berita yang menyangkut naik turunnya kinerja pasar saham. Yang mana dari sejak pertengahan tahun 2019 kemarin hingga saat ini kinerja pasar saham kita, IHSG memang tidak bisa dibilang bagus. Bahkan kinerja 2020 YTD per tanggal 12 Feb 2020, kinerja IHSG berada di -6%an. Otomatis kinerja porto saya pun juga minus karena semua saham yang saya pegang saat adalah bluechip.

Berita-berita yang menyangkut pasar modal belakangan ini memang banyak berita negatif seperti, perang dagang China – US, konflik timur tengah Iran – US, Brexit sampai yang paling berpengaruh saat ini adalah ttg virus corona yang membuat pertumbuhan ekonomi China menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Efek dari penyebaran virus corona ini cukup berdampak ke perekonomian kita, hal yang paling simple adalah penurunan jumlah wisatawan China ke Indonesia. Efek lainnya yang berdampak signifikan memang masih harus saya cari tahu lebih lanjut. Namun pada intinya, sejak saya mulai bisinis saham ini, kinerja IHSG ini masih sedikit banyak dipengaruhi oleh indeks luar negeri dimana kalau di luar sebut saja wallstreet atau china koreksi dalam, hampir dipastikan IHSG pun akan terkoreksi.

Nah, di sisi lain, dari dalam negeri sendiri, saya melihat pemerintahan yang sekarang ini belum memperlihatkan gerak-gerik yang signifikan untuk memberikan dampak yang positif terhadap ekonomi & bisnis secara keseluruhan. Maksudnya, saya belum melihat pemerintah membuka lapangan kerja secara masif atau mengeluarkan kebijakan yang dapat mendukung pengusaha lokal untuk dapat meningkatkan income atau lebih mudah dalam menjalankan bisnisnya. Justru sebaliknya, pemerintah sudah pasti meningkatkan tarif bpjs, kemungkinan biaya listrik akan naik, dari sisi penarikan pajak, sudah pasti pemerintah akan semakin ketat mengenakan aturan pajak baik pada perorangan ataupun bisnis. Yang dari kesemua ini saya melihat apabila biaya-biaya sudah pasti akan naik, sementara pemasukan masih segitu-segitu saja, maka kemampuan konsumsi atau daya beli masyarakat akan menurun. Dampaknya akan berimbas kepada bisnis yang akan mengalami penurunan pendapatan, dimana hal ini akan berakibat juga investor asing akan berpikir berkali-kali untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Sektor yang saya lihat akan / masih cukup berat di tahun ini adalah sektor properti & otomotif. Bahkan setelah BI menurunkan suku bunga acuan & kalau tidak salah sudah menurunkan aturan DP rumah, tetap saja belum memberikan stimulus yang cukup bagi peningkatan kinerja sektor property. Begitu juga dengan otomotif, tahun 2019 kemarin penjualan mobil baru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini saya kira masih akan berat.

Kalau dari apa yang saya pribadi alami, ya seperti yang di awal saya sebutkan tadi. Saya rasa bisnis di tahun ini bahkan sudah cukup bagus apabila bisa menyamai kinerja di tahun kemarin. Saat ini saya masih sulit membayangkan kinerja bisnis yang bertumbuh di tahun ini. Setidaknya sampai semester 1 ini. Dari bisnis saham sendiri saya rasa saat ini memang harus lebih hati-hati & memperhatikan market dengan lebih intense. Kemungkinan besar cuan saham akan saya dapatkan dari pembagian dividen. Sementara cuan dari capital gain kemungkinan besar masih harus menunggu sedikit agak lama.

Bisa dibilang saat ini kondisi memang sedang stagnan cenderung menurun. Namun saya tetap berharap kondisi ini akan segera berbalik positif dalam waktu yang tidak lama. Untungnya saham-saham yang saya pegang sekarang ini adalah bukan saham gorengan, fundamental baik, sebagian rajin membagikan dividen dengan yield yang cukup bagus, walaupun harga perolehan saya mungkin masih belum terlalu rendah untuk beberapa emiten. Karena saya masih sering terbawa emosi / nafsu pada saat melakukan pembelian saham. Selain itu apabila dilihat dari kondisi yang ada di berita-berita / disampailan oleh pemerintah, kondisi ekonomi Indonesia saat ini pada dasarnya tidaklah buruk dan mungkin memang pemerintah sedang melakukan perbaikan-perbaikan di berbagai sektor untuk nantinya dilakukan akselerasi setelah semua beres-beres selesai.

Jadi saya rasa saat ini yang dibutuhkan adalah sabar sedikit lebih lama & memutar otak dan mengakali bisnis agar dapat survive hingga semuanya indah pada waktunya nanti. Saya masih berharap & menyimpan kepercayaan yang cukup besar pada pemerintahan yang sekarang.

Categories
Jual Properti Rumah

Rumah Komplek Bulog, Bekasi

Luas Tanah 209m

Luas Bangunan 367m (3 lantai)

Listrik 5500 watt

Kamart Tidur 6

Kamar Mandi 5

Kamar Pembantu 2

Harga 5,5M (neg0) | Hary 081809165879

Categories
Jual Properti Rumah

Rumah Jalan Logam, Buah Batu, Bandung

Jl. H Bardan Logam Buah Batu

10 menit ke pintu Tol Buah Batu

10 menit ke Transmart Buah Batu

5 menit ke Pasar Tradisional Kordon

Bebas Banjir

Luas Tanah 167 m

Luas Bangunan 100 m

Kamar Tidur 3

Kamar mandi 2 (Closet duduk & jongkok)

Dapur

Ruang Tamu

Ruang keluarga

Jemuran

Taman depan belakang

Carport

Listrik 1300 watt

Air jet pump

Pondasi batu kali

Full bata merah

Harga 1M-an | Hary 081809165879

Categories
Jual Properti Rumah

Rumah Cluster Cinere

Rumah di Cinere Delta Residence dengan posisi hoek terawat, surat lengkap, lokasi sangat strategis, harga terjangkau.

LT ±144 m2

LB ±140m2

KT 3+1

KM 2+1

Listrik 5500watt

Air Tanah sudah di bor untuk memperdalam. Area komplek cocok untuk bermain anak-anak, Dijual karena berencana untuk memindahkan sekolah anak ke tempat yang lain.

Posisi rumah dekat dengan :

AKSES

– Pintu Tol Desari ±10 menit

– Stasiun MRT Lebak Bulus ±25 menit

RUMAH SAKIT

– Puri Cinere ±10 menit

– Prikasih Pondok Labu ±10 menit

– Mayapada Lebak Bulus ±20 menit

– Siloam TB. Simatupang ±20 menit

– RS Fatmawati ±30 menit

SEKOLAH

– Kinderfield ±10 menit

– Kharisma Bangsa ±15 menit

– Cita Persada ±10 menit

– Sekolah Harapan Bangsa ±15 menit

– Dian Didaktika ±10 menit

– Avicenna ±10 menit

– Tirtamarta ±10 menit

– Citra Ananda by Bunda Ciputat ±30 menit

MALL

– Cinere Bellevue ±10 menit

– One Bell Park ±20 menit

– Citos ±25 menit

HARGA 2M-an (Nego) | Hary 081809165879

Categories
Bisnis

Panik vs Euforia

OK, ini adalah catatan singkat saja yang adalah pengalaman yang baru saja saya alami. Baru saja saya cutloss PTPP & ADHI masing-masing kerugian -12% & -9%. Catatan penting yang saya dapat dari transaksi ini adalah sebagai berikut :

  1. Di PTPP kurang lebih di pertengahan Januari kemarin saya sempat di posisi floating profit 4% pada saat harganya menyentuh 1710 per lembar saham. Ini adalah saat pasar euforia dimana IHSG sempat menyentuh 6300.
  2. Namun karena saya masih berharap harganya naik terus dengan mimpi setidaknya mencapai target profit 10%, saya hold PTPP
  3. Ternyata seminggu terakhir nilainya turun terus hingga akhirnya saya putuskan untuk cutloss di 1515 per lembar saham dimana modal adalah 1650
  4. Di ADHI malah lebih buruk lagi. Modal per lembar 1286, cut loss di 1125. Di ADHI ini saya malah tidak pernah berada di posisi floating profit sama sekali.
  5. Pelajaran pentingnya adalah seharusnya HARAPAN yang saya miliki untuk sektor konsturksi ini lebih di adjust dengan kondisi aktual yang ada dimana saat ini EKONOMI GLOBAL memang sedang kurang menentu.
  6. IMF merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,5% untuk 2019 & 3,6% untuk 2020 (sumber : Kompas)
  7. Perlambatan pertumbuhan ekonomi ini dikarenakan beberapa hal seperti perang dagang China – US, tensi perang dagang US – Uni Eropa, tensi geo politik US – Iran, kondisi politik dalam negeri US dimana tahun 2020 akan ada pemilihan presiden kembali, sementara di saat ini sedang ada proses impeachment Donald Trump juga. Seperti yang sudah-sudah, setiap Donald Trump mengeluarkan statement, sedikit banyak akan mempengaruhi pasar saham.
  8. Selain itu, ekonomi dalam negeri pun sedang kurang kondusif dikarenakan kasus Jiwasraya, Asabri & Bumiputera. PTPP & ADHI merupakan 2 dari sekian banyak portofolio Jiwasraya yang harus dilepas karena kasus gagal bayar premi.

Jadi berapa kesimpulan PENTING yang saya ambil dari kejadian ini adalah :

  1. Mencari informasi kondisi aktual melalui berita-berita dari media terpercaya
  2. HOPE harus di adjust dengan kondisi aktual. Jangan NAIF.
  3. Kecuali saham-saham yang memang bisa di-keep utk jangka waktu yang lama dengan tujuan menabung/investasi (contoh saham consumer goods / banking), maka di luar jenis tersebut yang salah satunya adalah konstruksi, sebaiknya harus diambil langkah yang cepat utk memutuskan cutloss atau average down bahkan taking profit segera apabila market tidak menentu. Lebih baik segera cutloss pada saat rugi masih kecil kemudian masuk lagi nanti pada saat harga sudah lebih terdiskon dari pada terus di-keep hingga harga lebih terdiskon.
  4. Semakin cepat saham ini dikonversi kembali ke rupiah akan lebih baik. Dengan kondisi saat ini, ada baiknya tetap menyimpan dana untuk dapat masuk kembali pada saat ada saham-saham lain yang prospeknya lebih baik dibanding menahan saham yang sama dalam jangka waktu yang lama.
  5. Walaupun di kasus ini saya masih berharap akan ada kenaikan harga saham konstruksi dikarenakan pembangunan ibu kota baru, tapi sentimen tersebut masih mengawang adanya & belum ada kepastian emiten mana yang akan mendapatkan proyek senilai berapa. Bahkan kelanjutan proyek ibu kota baru ini pun masih belum jelas.
  6. Selalu ingat pelajaran utama dalam investasi dari Mr. Warren Buffet : “Never Lose Money”
Categories
Bisnis

Berapa Cuan Saham 7 Bulan Ini?

Ini adalah sebuah catatan akhir tahun saya sebagai investor saham yang sudah berjalan selama 7 bulan. Disini saya akan berusaha untuk bercerita jujur mengenai apa yang sudah terjadi dari mulai untung, rugi, salah beli, salah mengambil keputusan, panik, malas analisa, ragu-ragu, terlambat mengambil keputusan dan yang lainnya. Maksud dibuatnya tulisan ini yang utama adalah untuk saya introspeksi sehingga kesalahan tidak diulangi lagi dan memperbaiki hal-hal yang sudah baik. Berusaha untuk jujur adalah hal yang cukup berat disini karena saya sudah terbiasa melakukan pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang saya buat dan itu tidak baik. Namun semoga dengan dibuatnya catatan investasi akhir tahun ini, menjadi sebuah penutup yang baik utk mengawali perjalanan di tahun baru dengan lebih penuh komitmen. AMIN!

Pertama saya akan awali dengan rekap portofolio. Kebetulan kemarin 30 Desember 2019 adalah hari terkahir bursa sehingga di hari ini saya sudah bisa menyimpulkan profit / loss di tahun 2019. Berikut adalah posisi terakhir portfolio saya :

Secara keseluruhan selama 7 bulan ini saya merugi -0.02% yang artinya kalau modal yang dimasukan ke dalam rekening dana investor ini adalah 100 juta rupiah, saat ini dananya tinggal 99,98 juta rupiah.

Kalau kita lihat dari komposisi saham yang saya punya, pembagiannya adalah :

  • 3 saham sektor consumer goods dimana terdiri dari 2 sub-sektor tembakau yaitu HMSP & GGRM & 1 sub-sektor kosmetik & perlengkapan rumah tangga yaitu UNVR
  • 4 saham sektor keuangan yang terdiri dari kesemuanya perbankan : BBNI, BJTM, BBRI & BEKS. Nama yang terakhir bisa diabaikan karena alokasinya sangat kecil & itu adalah saham nyangkut.
  • 2 saham sektor konstruksi : PTPP & ADHI
  • 1 saham sektor industri dasar & kimia dengan sub-sektor pakan ternak : JPFA

Secara diversifikasi jenis saham sebenarnya sudah cukup terdiversifikasi, dan apabila melihat lebih lanjut ke alokasi dana (fund allocation) disitu terlihat bahwa 41.65% dana terfokus ke sektor consumer goods, 36,12% dana fokus di sektor perbankan, 14,6% fokus pada sektor konstruksi & 5,37% pada sektor industri dasar. Pertanyaanya, kenapa saya bisa merugi di 7 bulan ini?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, saya ingin menjelaskan singkat saja bahwa tujuan utama saya berinvestasi saham ini adalah untuk mendapatkan untung yang optimal dalam jangka waktu yang tidak terlalu panjang. Jadi BUKAN melulu menabung saham dan disimpan selama bertahun-tahun yang nantinya akan menjadi tinggi dengan sendirinya. Nah, dengan tujuan seperti itu, maka ada beberapa kesalahan yang bisa saya ceritakan disini sbb :

  1. Malas. Malas melakukan analisa fundamental yang menyeluruh / detail. Seperti yang saya pernah ceritakan di vlog saya ini, value investing ini sangat mengutamakan analisa fundamental yang baik. Kekurangan saya di dalam menganalisa ini menyebabkan saya membeli saham pada harga yang belum cukup murah sehingga pun harganya naik, profitnya tidak akan terlalu besar. Dan bahkan karena belum cukup murah, masih ada kemungkinan harganya malah turun. Untuk kesalahan yang ini saya akui memang ada faktor malas untuk membedah laporan keuangan perusahaan sampai ke dalam-dalamnya yang kemudian harus dibandingkan dengan historisnya juga dengan saham sejenis dalam sektor yang sama. Selain itu, saya pun kurang rajin update berita terutama kebijakan pemerintah yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan, contohnya adalah pada saat pembelian saham GGRM. Saya tidak sadar bahwa pada saat saya beli saham GGRM pertama kali, pemerintah sedang berwacana menaikan cukai rokok. Setelah cukai rokok naik, otomatis harga saham pun turun dalam.
  2. Euforia. Menyambung contoh nomer 1, pada saat harga GGRM terkoreksi dalam saya bernafsu menambah kepemilikan saham karena berpikir, kapan lagi beli saham GGRM di harga yang terkoreksi dalam seperti ini, kalau tidak salah pertama saya beli di 68rb lalu saya tambah lagi di harga 58rb. Namun karena euforia tadi, saya menjadi kurang sabar dan tidak menunggu untuk melihat situasi pasar terlebih dulu. Hasilnya, setelah saya menambah kepemilikan GGRM ternyata harganya masih turun terus. Dan euforia ini tidak stop hanya di GGRM, saya melihat harga HMSP pun terkoreksi dalam, maka saya juga beli sahamnya. Dan kejadiannya sama dengan GGRM, koreksinya belum selesai sehingga saham saya nyangkut. Saya juga pernah beli saham BBCA hanya karena alasan ingin punya saja.
  3. Panik. Ada masa di dalam 7 bulan ini dimana pasar panik dimana rata-rata harga saham turun dalam sekali salah satunya pada saat menjelang pilpres & kemudian terjadi lagi pada saat OJK menutup reksadana kaleng-kaleng. Pada saat pilpres, saya pun ikut panik melihat semua saham saya merugi, saya sempat floating loss 11%. Pada saat saya panik tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk menjual saham saya, kalau tidak salah saya menjual sebagian GGRM, sebagian HMSP & sebagian BBNI kemudian semua saham BSDE saya jual rugi & saham MNCN saya jual untung tipis.
  4. Terlambat mengambil keputusan. Melanjutkan cerita nomer 3, maksud saya menjual sebagian saham tadi adalah agar saya tidak ikut turun terus & nanti apabila market sudah stabil saya kan coba tambah lagi kepemilikan di harga yang sudah benar-benar terkoreksi namun sudah stabil. Namun ternyata seharusnya keputusan tersebut diambil beberapa waktu sebelumnya agar turunnya belum terlalu dalam. Namun karena dalam hati masih berharap koreksi ini hanya sementara, maka saya waktu itu menunggu saja. Ternyata keputusan menunggu pada saat itu adalah kurang tepat. Terlambat mengambil keputusan beli pun cukup berpengaruh untuk performance portofolio, contohnya adalah pada saat market panik karena reksadana kaleng-kaleng, banyak saham perbankan yang terdiskon cukup besar. Disitu saya hanya mengambil sedikit BBRI, namun seharusnya momen itu saya manfaatkan untuk beli BMRI juga untuk dijual pada saat harganya kembali normal. Dan benar saja, harga saham perbankan kembali normal hanya dalam hitungan minggu.
  5. Kurang Disiplin. Disiplin menjadi hal yang penting untuk memanage profit & loss di saham. Ada kalanya saya beli saham dengan fundamental bagus namun harganya belum terdiskon maksimal, hanya karena membaca group whatsapp ataupun email blast / baca berita. Atau ada juga kalanya saya telat menjual saham. Seharusnya saya jual saham ketika sudah mencapai target profit (misalnya sudah cuan 10% – 15%) namun karena masih berharap bisa mendapatkan cuan lebih, maka saya tahan. Alih-alih mendapat cuan lebih, yang ada malah turun kembali. Selain itu faktor disiplin disini juga mempengaruhi keputusan penempatan dana atas suatu emiten. Saya sempat memiliki sebuah emiten hingga 35% dari total dana yang saya miliki (total dana kelolaan adalah 100 juta, 35 jutanya ditempatkan di BBNI misalnya). Padahal secara teori proporsi dana untuk 1 emiten itu sebaiknya tidak melebihi dari 20% – 25% dari total dana kelolaan. Hal ini berfungsi untuk mengurangi resiko yang akan terjadi apabila performance emiten tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi.

Untuk list kesalahan, mungkin 5 diatas adalah yang utama, nanti kalau sekiranya ada hal penting yang perlu ditambahkan, akan saya langsung tambahan belakangan. Kemudian selain kesalahan di tahun ini ada juga beberapa saham yang membawa cuan apabila kita lihat saham per saham. UNTR saya sempat beli di harga 20 ribu dan jual di harga 23 ribu, MNCN saya sempat take profit walaupun tidak besar, MAIN pun take profit lumayan secara persentase. Namun apalah artinya cuan di beberapa emiten tertentu namun tetap loss secara keseluruhan portofolio pada akhirnya.

Sebenarnya masih ada ADHI & PTPP yang mungkin bisa dibilang salah satu kesalahan beli saya di 7 bulan ini. Kesalahan beli ini mungkin lebih dikarenakan saya belum mengetahui 100% bagaimana business flow kedua emiten tersebut hingga menghasilkan profit. Namun karena porsi dananya pun tidak sebesar yang lain, saya anggap ini adalah learning cost & trial-error. Karena toh pada akhirnya saya tidak harus menempatkan 100% uang saya di bisnis-bisnis yang saya tahu persis prosesnya, namun ada beberapa perusahaan siklikal yang memang ada kalanya harganya naik ada kalanya harganya turun.

Untuk perbaikan performance saya ke depan, yang pasti saya akan memperbaiki 5 kesalahan yang saya sebut di atas, ditambah dengan meningkatkan konsistensi dalam membuat konten untuk keperluan mencatat hal-hal penting yang perlu dihighlight. Kemudian mungkin di tahun depan saya akan menyisihkan sebagian kecil dana untuk bermain di saham yang sedikit lebih high risk. Apabila dilihat portofolio saya yang sekarang, rata-rata isinya blue chip. Dan yang pasti saya harus terus belajar dari para expert, saya akan ikut seminar investing sebagai peserta untuk pertama kalinya di tanggal 18 Januari 2020. Dan juga lebih sering update kondisi makro ekonomi mengingat isu perlambatan ekonomi global di tahun 2020.

Sekian penutupan tahun 2019 ini. Secara performance angka memang kurang menggembirakan namun saya percaya ilmu & pengalaman yang saya dapatkan jauh lebih berharga dibanding loss yang hanya sekecil ini. Sampai disini, selamat tahun baru – May health & prosperity be upon us in 2020!

Categories
Bisnis

Vlog VS Blog

Pertama mungkin saya harus bilang bahwa bikin vlog itu ternyata tidak sesimple itu. Dan bahkan jauh lebih rumit daripada menulis blog. Hal yang paling berasa adalah bahwa kita tidak setiap saat selalu siap untuk shooting. Ada kalanya ide tercetus di kepala tapi momentnya tidak memungkinkan untuk take video. Bisa dibayangkan, saya menulis saja malas, apalagi ini harus siap-siap untuk shooting.

Selain itu, sejauh pengalaman saya membuat 4 episode vlog, sebelum take video saya selalu menulis draft apa yang akan saya omongkan agar pada saat take tidak buang-buang waktu. Ujung-ujungnya akan lebih menghemat waktu apabila menulis blog. Saya selalu menulis draft yang akan saya bicarakan dengan tangan di atas kertas. Dan memang menulis dengan tangan kadang lebih enjoyable dibanding ketik laptop.

Kendala lain adalah video itu perlu editing dan proses editing cukup memakan waktu untuk mencari durasi yang pas apalagi dengan skill editing yang pas-pasan. Masalah durasi ini sebenarnya dilema karena semakin pendek video akan semakin nyaman untuk ditonton dan juga proses upload menjadi lebih singkat, namun seringkali pesan yang disampaikan menjadi tidak sempurna.

Selanjutnya, saya rasa untuk menyampaikan materi tentang investasi saham ini perlu adanya visualisasi tambahan dalam bentuk grafis atau rumus dalam bentuk text atau mungkin tabel-tabel pembanding dimana untuk memasukan visual ini ke dalam video, dibutuhkan effort tambahan lagi di proses editing.

Yang tidak kalah penting sebenarnya adalah memanage konsistensi. Saya memang sedang kesulitan untuk mengerjakan sesuatu secara konsisten. Sepertinya apabila konsistensi ini sudah didapat, mungkin semua kendala di atas dapat teratasi satu per satu.

Categories
Bisnis

Value Investing 101 Part 2

Tontonan untuk cemal-cemil sore. Lanjut tentang beberapa rumus pegangan untuk menilai sebuah saham itu sudah murah atau masih mahal & apakah layak untuk dibeli. Selanjutnya silahkan langsung praktek biar lebih dapet feelnya.

Categories
Bisnis

Value Investing 101 Part 1

Sedikit sharing cara investasi saham dari pemula. Kalau mau coba buka akun saham, silahkan browsing Indopremier atau Mirae Aset Sekuritas. Gw sendiri pake 2 platform tersebut untuk jual beli saham. Ga ada minimum dana, buka aja dulu baru cari tau lebih lanjut!