Categories
Bisnis

Optimisme di 2020?

Sudah sejak akhir tahun 2019 kemarin rasanya saya belum menemukan rasa optimis / semangat dalam menjalankan bisnis di tahun 2020. Mungkin karena setelah terjun ke bisnis pasar modal, saya jadi serinh terekspose oleh berita-berita yang menyangkut naik turunnya kinerja pasar saham. Yang mana dari sejak pertengahan tahun 2019 kemarin hingga saat ini kinerja pasar saham kita, IHSG memang tidak bisa dibilang bagus. Bahkan kinerja 2020 YTD per tanggal 12 Feb 2020, kinerja IHSG berada di -6%an. Otomatis kinerja porto saya pun juga minus karena semua saham yang saya pegang saat adalah bluechip.

Berita-berita yang menyangkut pasar modal belakangan ini memang banyak berita negatif seperti, perang dagang China – US, konflik timur tengah Iran – US, Brexit sampai yang paling berpengaruh saat ini adalah ttg virus corona yang membuat pertumbuhan ekonomi China menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Efek dari penyebaran virus corona ini cukup berdampak ke perekonomian kita, hal yang paling simple adalah penurunan jumlah wisatawan China ke Indonesia. Efek lainnya yang berdampak signifikan memang masih harus saya cari tahu lebih lanjut. Namun pada intinya, sejak saya mulai bisinis saham ini, kinerja IHSG ini masih sedikit banyak dipengaruhi oleh indeks luar negeri dimana kalau di luar sebut saja wallstreet atau china koreksi dalam, hampir dipastikan IHSG pun akan terkoreksi.

Nah, di sisi lain, dari dalam negeri sendiri, saya melihat pemerintahan yang sekarang ini belum memperlihatkan gerak-gerik yang signifikan untuk memberikan dampak yang positif terhadap ekonomi & bisnis secara keseluruhan. Maksudnya, saya belum melihat pemerintah membuka lapangan kerja secara masif atau mengeluarkan kebijakan yang dapat mendukung pengusaha lokal untuk dapat meningkatkan income atau lebih mudah dalam menjalankan bisnisnya. Justru sebaliknya, pemerintah sudah pasti meningkatkan tarif bpjs, kemungkinan biaya listrik akan naik, dari sisi penarikan pajak, sudah pasti pemerintah akan semakin ketat mengenakan aturan pajak baik pada perorangan ataupun bisnis. Yang dari kesemua ini saya melihat apabila biaya-biaya sudah pasti akan naik, sementara pemasukan masih segitu-segitu saja, maka kemampuan konsumsi atau daya beli masyarakat akan menurun. Dampaknya akan berimbas kepada bisnis yang akan mengalami penurunan pendapatan, dimana hal ini akan berakibat juga investor asing akan berpikir berkali-kali untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Sektor yang saya lihat akan / masih cukup berat di tahun ini adalah sektor properti & otomotif. Bahkan setelah BI menurunkan suku bunga acuan & kalau tidak salah sudah menurunkan aturan DP rumah, tetap saja belum memberikan stimulus yang cukup bagi peningkatan kinerja sektor property. Begitu juga dengan otomotif, tahun 2019 kemarin penjualan mobil baru menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun ini saya kira masih akan berat.

Kalau dari apa yang saya pribadi alami, ya seperti yang di awal saya sebutkan tadi. Saya rasa bisnis di tahun ini bahkan sudah cukup bagus apabila bisa menyamai kinerja di tahun kemarin. Saat ini saya masih sulit membayangkan kinerja bisnis yang bertumbuh di tahun ini. Setidaknya sampai semester 1 ini. Dari bisnis saham sendiri saya rasa saat ini memang harus lebih hati-hati & memperhatikan market dengan lebih intense. Kemungkinan besar cuan saham akan saya dapatkan dari pembagian dividen. Sementara cuan dari capital gain kemungkinan besar masih harus menunggu sedikit agak lama.

Bisa dibilang saat ini kondisi memang sedang stagnan cenderung menurun. Namun saya tetap berharap kondisi ini akan segera berbalik positif dalam waktu yang tidak lama. Untungnya saham-saham yang saya pegang sekarang ini adalah bukan saham gorengan, fundamental baik, sebagian rajin membagikan dividen dengan yield yang cukup bagus, walaupun harga perolehan saya mungkin masih belum terlalu rendah untuk beberapa emiten. Karena saya masih sering terbawa emosi / nafsu pada saat melakukan pembelian saham. Selain itu apabila dilihat dari kondisi yang ada di berita-berita / disampailan oleh pemerintah, kondisi ekonomi Indonesia saat ini pada dasarnya tidaklah buruk dan mungkin memang pemerintah sedang melakukan perbaikan-perbaikan di berbagai sektor untuk nantinya dilakukan akselerasi setelah semua beres-beres selesai.

Jadi saya rasa saat ini yang dibutuhkan adalah sabar sedikit lebih lama & memutar otak dan mengakali bisnis agar dapat survive hingga semuanya indah pada waktunya nanti. Saya masih berharap & menyimpan kepercayaan yang cukup besar pada pemerintahan yang sekarang.

Categories
Teknologi

Apakah Sekarang Saat Yang Tepat Untuk Memulai Vlog?

Dari dulu saya tidak pernah menikmati mambaca buku. Baik itu buku pelajaran sekolah, kampus bahkan komik pun saya tidak suka. Berbeda dengan istri, beliau sangat menikmati membaca buku. Hampir setiap kali makan dia sambil membaca buku. Membaca adalah ‘me’ time buat dia.

Ada 1 novel biografi musisi yang selesai saya baca tapi hanya buku itu seingat saya yang benar-benar saya baca sampai habis. Padahal saya tidak sebegitu sukanya dengan musik. Malah saya lebih suka dengan teknologi tapi buku biografi Steve Jobs hanya jadi pajangan saja di rak buku. Ya selain buku itu kadang saya masih suka baca berita di koran ataupun internet tapi itupun bisa dihitung seberapa sering. Paling sering berita sepakbola, sisanya yaa sama seperti netizen pada umumnya, menelusuri timeline twitter, instagram & facebook. Jadi pada intinya hubungan saya dengan buku itu kurang harmonis.

Tapi dari mana saya mendapatkan informasi atau ilmu-ilmu baru? Banyakan memang saya mengkonsumsi video baik di facebook atau youtube. Kalau highlight pertandingan bola saya akses footyroom.

Karena saya tidak suka baca, mungkin otomatis saya pun tidak menikmati proses menulis. Ini salah satu alasan paling kuat kenapa blog saya tidak pernah terisi penuh. Dari sini saya mulai berpikir apa lebih baik sekarang saya isi blog saya dengan konten video? Ya daripada saya nulis mungkin lebih mudah kalau saya bacot aja terus direkam upload youtube, embed disini. Iya ga sih? Ternyata ga semudah itu juga ya.

Konten video itu juga seharusnya disampaikan secara terstruktur. Ada pembukaan, isi utama, penutupan. Setidaknya struktur mudahnya seperti itulah. Kenapa? Karena saya pengen video konten saya juga ditonton orang & orang mengerti apa isinya. Nah, kalau saya sebagai pemula nge-vlog artinya kan saya harus mecatat dulu naskah / poin-poin yang akan saya rekam di dalam video. Artinya sebelum saya bisa nge-vlog sudah pasti saya harus bisa menulis dengan baik terlebih dahulu.

Saya paham dengan saya tidak suka menulis secara terstruktur apalagi sekarang saya sudah jarang sekali bikin proposal kreatif untuk dipresentasikan, kemampuan berkomunikasi saya menjadi kurang oke sih. Beda dengan dulu pada saat masih sering riset & bikin proposal. Saya pun merasa otak menjadi semakin tumpul. Walaupun bukan berarti saya jadi bego atau bodoh, tapi setidaknya kepercayaan diri dan atau kemampuan menyampaikan maksud dengan baik saat berbicara satu lawan satu ataupun di publik cenderung menurun. Dan ini mulai ga asik nih karena saya takut otak semakin jarang dipakai & semakin tumpul.

Makanya saya akan coba niatkan untuk belajar menulis secara terstuktur dan belajar banyak dari senior-senior vlogger tentang bagaimana menyampaikan topik yang mungkin standard, tapi jadi menarik dan enak ditonton. Oiya, salah satu vlog yang saya suka adalah Youtube channelnya Pandji Pragiwaksono, GOKS!

Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya cukup percaya diri untuk memulai vlog saya sendiri. Semangat!