Categories
Teknologi

Jadi Mau Bisnis Apa Sih?

Banyak banget yang pengen saya coba jalanin, tapi masalahnya adalah, kayanya saya ga mau bagian susah bangetnya. Pengennya yang gampang & sukses. Saya memang pemalas.

Nah, 3 bulan terakhir ini, entah awalnya bagaimana, saya lagi dipertemukan kembali dengan dunia investasi saham. Dan kali ini saya cukup excited untuk memahami & menjalankannya. Saya banyak belajar dari Pak Teguh Hidayat baik baca blog-nya, e-booknya juga bukunya. Kesimpulannya adalah “Wah, gila harusnya gw tekunin bidang ini dari dulu”

Saya sudah buka akun trading saham ini dari 4 atau 5 tahun yang lalu tapi tidak dipakai sama sekali. Baru setelah saya baca buku Pak Teguh ini baru, saya benar-benar excited & pengen belajar lebih jauh lagi. It’s more about analytics & calculation. Yang dulu saya berpikir bahwa saham lebih ke gambling, ternyata bukan. Ada satu kalimat yang Pak Teguh bilang di salah satu seminarnya yang menjelaskan kenapa investasi saham ini bukan gambling yg pada intinya adalah : kalau gambling itu resiko vs gain 50-50, sementara investasi, gain-nya setelah diperhitungkan dengan matang bisa jauh lebih besar dibanding resiko. Tentunya segala macam investasi itu akan ada resikonya. Investor yang seperti ini disebut Value Investor. Dimana Pak Teguh ini berkiblat kepada Warren Buffet & Benjamin Graham.

Sekarang saya sudah cukup yakin kalau Value Investor ini adalah apa yang saya ingin jalankan sampai selama mungkin. Mulai dari hari ini, mudah-mudahan saya akan lebih sering menulis di blog ini & kebanyakan isinya akan membahas aktivitas investasi saham yang saya lakukan. Walaupun kedala pada proses menulis ada pada diri saya yang malas.

Categories
Teknologi

Cerita Start Up : TaniHub

Saya adalah tipikal yang suka update dengan teknologi. Walaupun belakangan menjadi agak kerepotan utk catch up karena sangking cepatnya perkembangan teknologi itu sendiri.

Salah satu yang saya suka pantau adalah start up teknologi berbasis aplikasi. Salah satu yang baru saya coba baru-baru ini adalah aplikasi TaniHub. Kalian bisa cari aplikasi ini hanya di playstore karena baru rilis untuk android saja. TaniHub adalah sebuah start up berbasis aplikasi yang membantu petani buah & sayur untuk dapat memasarkan hasil taninya ke pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi.

Idenya bagus, berani memberikan solusi bagi permasalahan distribusi hasil tani denngan memotong rantai distribusi menjadi lebih pendek. Seperti yang sudah bukan rahasia umum lagi, kalau distribusi hasil tani ini banyak katanya rantainya sangat panjang dari petani hingga ke konsumen akhir, sehingga harga yang sebenarnya murah, bisa jadi mahal sampai di konsumen. Yah intinya seperti itu. Tapi yang saya mau ceritakan adalah pengalaman saya belanja di TaniHub.

Minggu lalu TaniHub ada promosi serba 5000 dan gratis ongkir. Saya beli rambutan, alpukat mentega, pepaya california, salak pondoh, mangga irwin, cukup banyak dengan total harga hanya Rp. 148.000,- saja. Pada saat beli di aplikasi, mungkin karena belum siap mengalami lonjakan traffic pembeli pada aplikasi, beberapa kali aplikasi crash. Setelah memasukan belanja di keranjang, beberapa kali coba check out tapi gagal. Hingga hasilnya berhasil & bayar transfer melalui m-banking, masalah selanjutnya adalah tidak ada feedback baik di aplikasi ataupun email bahwa transaksi sudah selesai & barang akan dikirim kapan.

Sayapun kirim email ke CS dan menerima feedback dalam waktu yang cukup singkat. Benar saja dugaan saya, start up tersebut menerima lonjakan traffic & pembelian sehingga aplikasi crash, CS bilang paling lambat barang akan dikirim H+1. Namun ternyata barang baru dikirim sekitar H+2 atau H+3, itu pun barang yang saya terima belum lengkap, baru sebagian & saya harus follow up lagi ke CS. Biasa saya follow up di semua channel yang ada, disini saya coba follow up via FB fanpage & email. Keduanya dibalas dan menjelaskan bahwa barang yang belum lengkap dikarenakan kondisi buah yang kurang bagus & sisanya akan dikirimkan segera. Singkat cerita H+5 saya terima barang sisanya. Di hari yang sama setelah menerima sisa barang yang kurang, saya ditelepon oleh kurir TaniHub sebut saja si A, memberitahukan bahwa barang pesanan saya sedang beliau kirim menuju rumah. Saya pun jelaskan bahwa pesanan sudah lengkap saya terima dan beliau mengerti. Namun agak sore saya kembali ditelepon oleh kurir berbeda yang menginformasikan bahwa beliau mengantarkan barang pesanan saya. Saya kembali jelaskan bahwa pesanan saya sudah lengkap diterima. Keesokan harinya, sepulang saya dari luar rumah, ternyata ada buah kiriman dari TaniHub lagi yang isinya adalah sama dengan pesanan saya namun tidak komplit. Barang itu sampai di rumah & diterima oleh pembantu saya yang memang kurang paham kalau sebetulnya barang-barang tersebut sudah saya terima.

Setelah saya kontak CS dan saya minta untuk saya bayar saja kelebihan barang ini, ternyata pihak TaniHub tidak berkenan untuk menerima pembayaran karena ini kesalahan berada di pihak mereka. Ya sudah, saya bersyukur & terima saja. Saya senang untuk mensupport start up seperti ini, semoga dengan adanya kasus saya ini, ke depan TaniHub akan semakin memperbaiki infrastruktur & business process-nya. Sayang kan ide yang mulai yang sudah bagus tidak dibarengi dengan eksekusi yang elegan.

Anggap saja ini adalah pengalaman yang bagus buat saya karena saya beruntung menerima barang lebih dari yang saya bayar. Selain ini saya punya pengalaman lain dengan start up lain lagi, tapi agak kurang menyenangkan. Saya akan bahas di postingan lain ya.

Categories
Teknologi

Apakah Sekarang Saat Yang Tepat Untuk Memulai Vlog?

Dari dulu saya tidak pernah menikmati mambaca buku. Baik itu buku pelajaran sekolah, kampus bahkan komik pun saya tidak suka. Berbeda dengan istri, beliau sangat menikmati membaca buku. Hampir setiap kali makan dia sambil membaca buku. Membaca adalah ‘me’ time buat dia.

Ada 1 novel biografi musisi yang selesai saya baca tapi hanya buku itu seingat saya yang benar-benar saya baca sampai habis. Padahal saya tidak sebegitu sukanya dengan musik. Malah saya lebih suka dengan teknologi tapi buku biografi Steve Jobs hanya jadi pajangan saja di rak buku. Ya selain buku itu kadang saya masih suka baca berita di koran ataupun internet tapi itupun bisa dihitung seberapa sering. Paling sering berita sepakbola, sisanya yaa sama seperti netizen pada umumnya, menelusuri timeline twitter, instagram & facebook. Jadi pada intinya hubungan saya dengan buku itu kurang harmonis.

Tapi dari mana saya mendapatkan informasi atau ilmu-ilmu baru? Banyakan memang saya mengkonsumsi video baik di facebook atau youtube. Kalau highlight pertandingan bola saya akses footyroom.

Karena saya tidak suka baca, mungkin otomatis saya pun tidak menikmati proses menulis. Ini salah satu alasan paling kuat kenapa blog saya tidak pernah terisi penuh. Dari sini saya mulai berpikir apa lebih baik sekarang saya isi blog saya dengan konten video? Ya daripada saya nulis mungkin lebih mudah kalau saya bacot aja terus direkam upload youtube, embed disini. Iya ga sih? Ternyata ga semudah itu juga ya.

Konten video itu juga seharusnya disampaikan secara terstruktur. Ada pembukaan, isi utama, penutupan. Setidaknya struktur mudahnya seperti itulah. Kenapa? Karena saya pengen video konten saya juga ditonton orang & orang mengerti apa isinya. Nah, kalau saya sebagai pemula nge-vlog artinya kan saya harus mecatat dulu naskah / poin-poin yang akan saya rekam di dalam video. Artinya sebelum saya bisa nge-vlog sudah pasti saya harus bisa menulis dengan baik terlebih dahulu.

Saya paham dengan saya tidak suka menulis secara terstruktur apalagi sekarang saya sudah jarang sekali bikin proposal kreatif untuk dipresentasikan, kemampuan berkomunikasi saya menjadi kurang oke sih. Beda dengan dulu pada saat masih sering riset & bikin proposal. Saya pun merasa otak menjadi semakin tumpul. Walaupun bukan berarti saya jadi bego atau bodoh, tapi setidaknya kepercayaan diri dan atau kemampuan menyampaikan maksud dengan baik saat berbicara satu lawan satu ataupun di publik cenderung menurun. Dan ini mulai ga asik nih karena saya takut otak semakin jarang dipakai & semakin tumpul.

Makanya saya akan coba niatkan untuk belajar menulis secara terstuktur dan belajar banyak dari senior-senior vlogger tentang bagaimana menyampaikan topik yang mungkin standard, tapi jadi menarik dan enak ditonton. Oiya, salah satu vlog yang saya suka adalah Youtube channelnya Pandji Pragiwaksono, GOKS!

Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya cukup percaya diri untuk memulai vlog saya sendiri. Semangat!

Categories
Teknologi

Memulai Kembali Blog Lama

Menyambut tahun baru 2019, saya kembali mereset blog pribadi saya ini. Saya bermaksud untuk memulai blog baru lagi. Semua tulisan di blog yang lama sudah saya download untuk back up & saya hapus semua di tampilan online karena saya tidak suka memulai sesuatu yang baru tapi masih ada sisa tulisan yang lama. Lagipula tulisan saya di blog yang lama itu temanya sangat acak, walaupun di blog yang baru ini juga belum tentu tidak acak.

Pada dasarnya saya adalah orang yang kurang suka baca & tulis. Makanya dari pertama saya memiliki domain harykurniawan.com ini, isinya tidak pernah penuh. Karena keinginan untuk menulis itu datangnya jarang sekali. Sekalinya datang, pasti ada keinginan untuk merombak total tampilan web, seperti saat saya menulis postingan ini. Kemudian biasanya setelah ini akan vakum dulu selama beberapa lama untuk kemudian menulis kembali, lalu vakum lagi. Lalu reset blog memulai baru dan begitu seterusnya.

Setidaknya postingan ini bisa dijadikan penanda dimulainya era baru blog harykurniawan.com menyambut tahun baru 2019. Menutup tulisan pertama di blog baru ini, saya mengucapkan selamat berlibur bagi yang sudah berlibur dan selamat menyambut tahun baru 2019.