Menunggu

OK, sebenernya kegiatan paling membosankan itu adalah menunggu. Kadang bingung mau ngapain & ujung-ujungnya ya mainin hp. Di investasi saham pun sama. Beberapa artikel yang saya baca bilang kalau investasi saham itu tidak boleh grasak-grusuk. Apalagi value investing. Kuncinya adalah tunggu sampai saatnya masuk, dan keluar pada saat yang tepat.

Tunggu sampai harga saham incaran memang sudah terdiskon maksimal atau sudah sangat murah, barulah pada saat itu kita beli / masuk. Setelah itu ya, tunggu lagi sampai harganya sudah tinggi, baru kemudian lepas. Nah pada proses menunggu inilah yang kadang-kadang sangking tidak sabaran, bawaannya pengen belanja / beli. Kadang harga saham baru terdiskon sedikit saja, kita sudah pengen beli. Padahal besok-besok harganya masih akan turun dan seharusnya masih bisa ditunda belinya nanti setelah turun maksimal.

Sama juga pada saat harus menjual, kadang sangking ga sabar, kita suka salah ambil keputusan untuk buru-buru jual yang imbasnya adalah :

  1. jual pada saat rugi tapi apabila lbh sabar sedikit bisa jadi untung
  2. jual pada saat sudah merasa untung, padahal keuntungan itu masih bisa lebih optimal apabila tunggu beberapa saat lagi

Tapi sebaliknya, apabila kita tahan-tahan saham dengan harapan dapat untung walaupun sedikit atau berharap untung lebih besar, bisa jadi yang terjadi malah sebaliknya. Harga sahamnya tiba-tiba drop dan makin lama profit yang sudah di depan mata malah kegerus.

Nah saya coba cerita sedikit pengalaman saya yg newbie ini dalam memanage portofolio saya. Saat ini saya cuma pegangan emiten : MNCN, BTPN, BSDE, BEKS, BBNI, BBCA. Beberapa hari sebelum ini saya baru saja menjual PPRO (rugi), TLKM (profit), GIAA (profit), WIKA (rugi), UNVR (profit), ANTM (profit), BKSL (profit), MYOH (profit). Dan hari ini saya berencana lepas BTPN yang kemungkinan besar rugi & BBCA tapi ini tunggu untung kecil saja. Utk BEKS anggap saja itu investasi nyangkut yang tidak bisa saya lepas karena perusahaan merugi terus menerus & tidak ada yang tertarik utk beli sahamnya walaupun sudah 50 rupiah (harga saham paling murah di pasar reguler IDX adalah 50 rupiah & tidak mungkin turun lagi sesuai peraturan yang ada).

Kenapa saya menjual & menahan saham-saham tesebut di atas? Jawabannya adalah :

  1. saya ingin merapikan portofolio saya. saham GIAA, TLKM, BKSL, MYOH, BEKS saya beli sudah dari setahun yang lalu pada saat saya masih iseng-iseng main saham. Jadi saat sekarang mempelajari LK & prospeknya, sepertinya saham2 yg td saya sebut dijual adalah yang layak utk dijual dalam rangka merapikan porto. Kecuali BEKS yang terpakasa hrs saya pegang karena tidak laku.
  2. saham MNCN & BSDE sebenarnya saya berharap jackpot disini.
  3. BBNI & BBCA saya berharap dapat moderate profit tapi memang hrs average down pada saat harga turun

Jadi saat ini saya hanya pegang BBCA, BBNI, MNCN, BSDE. Utk watchlist saya sedang mengincar UNVR & UNTR yang akan saya coba masuk pada saat harga benar-benar terdiskon. Utk second liner mungkin saya akan incar TKIM, MTDL, WEGE, ADMF. Secara keseluruhan saya berusaha utk memegang minimal di 6 emiten maksimal di 8 emiten dgn kelonggaran sampai 10 emiten saja. Kenapa? Karena semakin banyak emiten yang dipegang, semakin susah utk fokus dan semakn cape juga utk memantau kapan harus lepas atau kapan harus tambah. Tapi diluar emiten yang saya pegang, saya masi akan menganalisa & menyimpan beberapa emiten cadangan utk jaga-jaga apabila beberapa emiten yang saya miliki harus saya lepas.

Kurang lebih itu dulu yang saya bs sampaikan. Di postingan selanjutnya kemungkinan saya akan bahas lebih dalam mengenai beberapa emiten yang sudah saya miliki, mungkin MNCN & BSDE. OK? c u!

Jadi Mau Bisnis Apa Sih?

Banyak banget yang pengen saya coba jalanin, tapi masalahnya adalah, kayanya saya ga mau bagian susah bangetnya. Pengennya yang gampang & sukses. Saya memang pemalas.

Nah, 3 bulan terakhir ini, entah awalnya bagaimana, saya lagi dipertemukan kembali dengan dunia investasi saham. Dan kali ini saya cukup excited untuk memahami & menjalankannya. Saya banyak belajar dari Pak Teguh Hidayat baik baca blog-nya, e-booknya juga bukunya. Kesimpulannya adalah “Wah, gila harusnya gw tekunin bidang ini dari dulu”

Saya sudah buka akun trading saham ini dari 4 atau 5 tahun yang lalu tapi tidak dipakai sama sekali. Baru setelah saya baca buku Pak Teguh ini baru, saya benar-benar excited & pengen belajar lebih jauh lagi. It’s more about analytics & calculation. Yang dulu saya berpikir bahwa saham lebih ke gambling, ternyata bukan. Ada satu kalimat yang Pak Teguh bilang di salah satu seminarnya yang menjelaskan kenapa investasi saham ini bukan gambling yg pada intinya adalah : kalau gambling itu resiko vs gain 50-50, sementara investasi, gain-nya setelah diperhitungkan dengan matang bisa jauh lebih besar dibanding resiko. Tentunya segala macam investasi itu akan ada resikonya. Investor yang seperti ini disebut Value Investor. Dimana Pak Teguh ini berkiblat kepada Warren Buffet & Benjamin Graham.

Sekarang saya sudah cukup yakin kalau Value Investor ini adalah apa yang saya ingin jalankan sampai selama mungkin. Mulai dari hari ini, mudah-mudahan saya akan lebih sering menulis di blog ini & kebanyakan isinya akan membahas aktivitas investasi saham yang saya lakukan. Walaupun kedala pada proses menulis ada pada diri saya yang malas.

Disewakan : Studio Apartment di BSD

Disewakan 1 unit studio apartment di BSD, dengan detail sbb :

  • Apartment Akasa Pure Living BSD
  • Tipe Studio
  • Luas Bersih +/- 18 meter persegi
  • Full furnished sudah ada tempat tidur, lemari, meja belajar, AC, water heater, TV
  • Belum termasuk internet & tv kabel. Penyewa bisa langsung kontak booth Indiehome di lobby dan memilih paket yang sesuai dengan kebutuhan
  • Fasilitas umum terdapat area bermain anak, kolam renang & pusat kebugaran
  • Lokasi dekat pintu tol Jakarta-Serpong, Stasiun KA Sudimara, RS Eka Hospital
  • Harga sewa Rp. 3.500.000,- per bulan, minimal 3 bulan sewa (sudah termasuk IPL)
  • Biaya listrik, air & parkir dibayarkan penyewa sesuai dengan pemakaian.
  • Harga negotiable untuk durasi sewa yang lebih panjang
  • Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi email hary2601@gmail.com / 081809165879 Hary.
tampak ruangan dari pintu masuk
tempat tidur
dapur
kamar mandi
meja belajar
kolam renang & area bermain anak
pusat kebugaran
pusat kebugaran

Cerita Start Up : TaniHub

Saya adalah tipikal yang suka update dengan teknologi. Walaupun belakangan menjadi agak kerepotan utk catch up karena sangking cepatnya perkembangan teknologi itu sendiri.

Salah satu yang saya suka pantau adalah start up teknologi berbasis aplikasi. Salah satu yang baru saya coba baru-baru ini adalah aplikasi TaniHub. Kalian bisa cari aplikasi ini hanya di playstore karena baru rilis untuk android saja. TaniHub adalah sebuah start up berbasis aplikasi yang membantu petani buah & sayur untuk dapat memasarkan hasil taninya ke pasar yang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi.

Idenya bagus, berani memberikan solusi bagi permasalahan distribusi hasil tani denngan memotong rantai distribusi menjadi lebih pendek. Seperti yang sudah bukan rahasia umum lagi, kalau distribusi hasil tani ini banyak katanya rantainya sangat panjang dari petani hingga ke konsumen akhir, sehingga harga yang sebenarnya murah, bisa jadi mahal sampai di konsumen. Yah intinya seperti itu. Tapi yang saya mau ceritakan adalah pengalaman saya belanja di TaniHub.

Minggu lalu TaniHub ada promosi serba 5000 dan gratis ongkir. Saya beli rambutan, alpukat mentega, pepaya california, salak pondoh, mangga irwin, cukup banyak dengan total harga hanya Rp. 148.000,- saja. Pada saat beli di aplikasi, mungkin karena belum siap mengalami lonjakan traffic pembeli pada aplikasi, beberapa kali aplikasi crash. Setelah memasukan belanja di keranjang, beberapa kali coba check out tapi gagal. Hingga hasilnya berhasil & bayar transfer melalui m-banking, masalah selanjutnya adalah tidak ada feedback baik di aplikasi ataupun email bahwa transaksi sudah selesai & barang akan dikirim kapan.

Sayapun kirim email ke CS dan menerima feedback dalam waktu yang cukup singkat. Benar saja dugaan saya, start up tersebut menerima lonjakan traffic & pembelian sehingga aplikasi crash, CS bilang paling lambat barang akan dikirim H+1. Namun ternyata barang baru dikirim sekitar H+2 atau H+3, itu pun barang yang saya terima belum lengkap, baru sebagian & saya harus follow up lagi ke CS. Biasa saya follow up di semua channel yang ada, disini saya coba follow up via FB fanpage & email. Keduanya dibalas dan menjelaskan bahwa barang yang belum lengkap dikarenakan kondisi buah yang kurang bagus & sisanya akan dikirimkan segera. Singkat cerita H+5 saya terima barang sisanya. Di hari yang sama setelah menerima sisa barang yang kurang, saya ditelepon oleh kurir TaniHub sebut saja si A, memberitahukan bahwa barang pesanan saya sedang beliau kirim menuju rumah. Saya pun jelaskan bahwa pesanan sudah lengkap saya terima dan beliau mengerti. Namun agak sore saya kembali ditelepon oleh kurir berbeda yang menginformasikan bahwa beliau mengantarkan barang pesanan saya. Saya kembali jelaskan bahwa pesanan saya sudah lengkap diterima. Keesokan harinya, sepulang saya dari luar rumah, ternyata ada buah kiriman dari TaniHub lagi yang isinya adalah sama dengan pesanan saya namun tidak komplit. Barang itu sampai di rumah & diterima oleh pembantu saya yang memang kurang paham kalau sebetulnya barang-barang tersebut sudah saya terima.

Setelah saya kontak CS dan saya minta untuk saya bayar saja kelebihan barang ini, ternyata pihak TaniHub tidak berkenan untuk menerima pembayaran karena ini kesalahan berada di pihak mereka. Ya sudah, saya bersyukur & terima saja. Saya senang untuk mensupport start up seperti ini, semoga dengan adanya kasus saya ini, ke depan TaniHub akan semakin memperbaiki infrastruktur & business process-nya. Sayang kan ide yang mulai yang sudah bagus tidak dibarengi dengan eksekusi yang elegan.

Anggap saja ini adalah pengalaman yang bagus buat saya karena saya beruntung menerima barang lebih dari yang saya bayar. Selain ini saya punya pengalaman lain dengan start up lain lagi, tapi agak kurang menyenangkan. Saya akan bahas di postingan lain ya.

Apakah Sekarang Saat Yang Tepat Untuk Memulai Vlog?

Dari dulu saya tidak pernah menikmati mambaca buku. Baik itu buku pelajaran sekolah, kampus bahkan komik pun saya tidak suka. Berbeda dengan istri, beliau sangat menikmati membaca buku. Hampir setiap kali makan dia sambil membaca buku. Membaca adalah ‘me’ time buat dia.

Ada 1 novel biografi musisi yang selesai saya baca tapi hanya buku itu seingat saya yang benar-benar saya baca sampai habis. Padahal saya tidak sebegitu sukanya dengan musik. Malah saya lebih suka dengan teknologi tapi buku biografi Steve Jobs hanya jadi pajangan saja di rak buku. Ya selain buku itu kadang saya masih suka baca berita di koran ataupun internet tapi itupun bisa dihitung seberapa sering. Paling sering berita sepakbola, sisanya yaa sama seperti netizen pada umumnya, menelusuri timeline twitter, instagram & facebook. Jadi pada intinya hubungan saya dengan buku itu kurang harmonis.

Tapi dari mana saya mendapatkan informasi atau ilmu-ilmu baru? Banyakan memang saya mengkonsumsi video baik di facebook atau youtube. Kalau highlight pertandingan bola saya akses footyroom.

Karena saya tidak suka baca, mungkin otomatis saya pun tidak menikmati proses menulis. Ini salah satu alasan paling kuat kenapa blog saya tidak pernah terisi penuh. Dari sini saya mulai berpikir apa lebih baik sekarang saya isi blog saya dengan konten video? Ya daripada saya nulis mungkin lebih mudah kalau saya bacot aja terus direkam upload youtube, embed disini. Iya ga sih? Ternyata ga semudah itu juga ya.

Konten video itu juga seharusnya disampaikan secara terstruktur. Ada pembukaan, isi utama, penutupan. Setidaknya struktur mudahnya seperti itulah. Kenapa? Karena saya pengen video konten saya juga ditonton orang & orang mengerti apa isinya. Nah, kalau saya sebagai pemula nge-vlog artinya kan saya harus mecatat dulu naskah / poin-poin yang akan saya rekam di dalam video. Artinya sebelum saya bisa nge-vlog sudah pasti saya harus bisa menulis dengan baik terlebih dahulu.

Saya paham dengan saya tidak suka menulis secara terstruktur apalagi sekarang saya sudah jarang sekali bikin proposal kreatif untuk dipresentasikan, kemampuan berkomunikasi saya menjadi kurang oke sih. Beda dengan dulu pada saat masih sering riset & bikin proposal. Saya pun merasa otak menjadi semakin tumpul. Walaupun bukan berarti saya jadi bego atau bodoh, tapi setidaknya kepercayaan diri dan atau kemampuan menyampaikan maksud dengan baik saat berbicara satu lawan satu ataupun di publik cenderung menurun. Dan ini mulai ga asik nih karena saya takut otak semakin jarang dipakai & semakin tumpul.

Makanya saya akan coba niatkan untuk belajar menulis secara terstuktur dan belajar banyak dari senior-senior vlogger tentang bagaimana menyampaikan topik yang mungkin standard, tapi jadi menarik dan enak ditonton. Oiya, salah satu vlog yang saya suka adalah Youtube channelnya Pandji Pragiwaksono, GOKS!

Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya cukup percaya diri untuk memulai vlog saya sendiri. Semangat!

Jebakan Mindset Korporat

Oke, disini saya mau coba menjelaskan dan mencoba jujur kalau saya itu sebenarnya belum 100% memiliki mental wirausaha.

Pertama kali saya menghasilkan uang sendiri adalah dengan membantu menempel-nempelkan poster event di jalanan di Bandung. Disitu adalah awal saya mendalami bidang event organizing yang pada akhirnya saya tekuni & kerja tetap selama kurang lebih 3 tahun

Kemudian karir saya dilanjutkan dengan bekerja di salah satu group media besar di Jakarta. Waktu itu saya pegang bagian event & promosi radioa segmen anak muda. Kerjaannya mirip, politik kantor lebih rumit, duitnya lebih baik dibanding di Bandung tapi biaya hidup pun berbeda antara Bandung & Jakarta. Pindahlah saya ke sebuah EO di Jakata dengan gaji lebih tinggi. Setahun saya di EO Jakarta akhirnya saya berhasil pindah ke dunia digital.

Pertama kali saya masuk digital itu adalah di industri musik. Digital label. Singkat cerita saya ga betah sama sekali karena saya tidak mencintai pekerjaan saya jualan RBT & mobile content yang saat itu booming.

Nah, setelah itu saya pindah untuk kerja lagi di industri digital advertising. Saya berkantor dari tahun 2011 sampai 2016 sebelum akhirnya memutuskan untuk bikin kantor digital advertising sendiri bersama istri. Dari awal saya sudah bekerja untuk orang lain & memang dari pihak keluarga pun sepertinya saya tidak didorong untuk dapat memiliki jiwa wirasusaha, padahal papa saya almarhum wirausaha. Tapi mungkin karena beliau merasa wirausaha itu hidupnya tidak menentu kali ya jadi tidak mau anaknya merasakan apa yang beliau rasakan.

gambar diambil dari : https://www.webtrafficthatworks.com/

September 2016 saya dan istri mulai perjalanan baru sebagai bisa dibilang wiraswasta sampai saat post ini ditulis. Saya berpikir dengan berwira usaha, saya sudah melepaskan diri dari kehidupan korporat. Dua tahun perusahaan saya berjalan, saya baru sadar kalau sebenarnya pikiran saya itu masih sangat korporat. Saya masih sering membayangkan saya akan seperti orang-orang sukses lain yang memiliki usaha yang besar, punya kantor dengan banyak karyawan. Sebut saja Nadiem Gojek & William Tokopedia. Jujur mereka adalah inspirasi. Tapi untuk menjadi seperti mereka perjuangannya tidak terbayang seperti apa saat ini ya. Panjang & melelahkan pastinya.

Kemudian saya berpikir lagi, apakah perjuangan panjang tersebut adalah yang saya cari? Dan apabila saya menjalani perjuangan itu artinya saya akan masuk kembali ke dunia korporat? Kalau tidak terpaksa, sebenarnya saya tidak mau kembali ke dunia korporat.

Saya menikmati kehidupan berkantor di rumah saya selama 2 tahun terakhir dimana saya lebih sering bersama anak & istri, tidak melewatkan prosea tumbuh kembang anak saya sama sekali, kadang menemani & merawat orang tua namun masih bisa menghasilkan & berkecukupan.

Oh iya, saya masih terjebak mindset bahwa untuk menjalankan bisnis itu harus menghasilkan profit yang besar, kalau tidak besar berarti tidak seksi. Padahal tidak selalu! Jebakan ini yang bikin progres saya sebagai wirausaha berjalan lambat.

Setelah melalui proses di atas, saya seperti masih tetap ingin memiliki bisnis (start up) besar yang dapat menjadi inspirasi setidaknya untuk anak & lingkungan terdekat saya. Tapi ini akan saya jalankan dengan santai, tidak terlalu obsesif & diusahakan tidak akan mengharapkan perusahaan ini akan menjadi penunjang ekonomi keluarga. Karena begitu beban itu disematkan, perjalanan start up ini akan menjadi berat & cenderung kurang menyenangkan. Untuk bisnis (start up) ini doakan saja akan terwujud seiring dengan berjalannya waktu.

Nah satu usaha yang ingin saya mulai segera saat ini & diharapkan akan menjadi penunjang ekonomi keluarga adalah bisnis-bisnis receh. Kebetulan saat ini saya punya 1 studio apartment yang bisa disewakan di daerah BSD & 2 rumah milik mertua yang bisa dikontrakan. Dari aset tersebut diharapkan ada pemasukan bulanan yang stabil walaupun tidak besar.

Kemudian saya sedang ingin mulai franchise ayam goreng yang diharapkan juga akan menghasilkan profit kecil namin stabil dalam waktu tidak terlalu lama. Apabila sudah menemukan ritmenya, saya ingin mengkloning bisnis-bisnis dengan profit stabil ini sehingga nilai profitnya akan terasa cukul besar. Menurut saya bisnis receh ini layak untum dicoba, dengan nilai investasi tidak terlalu besar sehingga meminimalkan resiko. Ya sudah, kita mulai saja dulu & mudah2an tantangannya manageable & berjalan sesuai rencana! Aminn..

Saya akan update cerita bisnis receh yang sudah dijalankan di post lain apabila sudah ada yang bisa saya share.

Memulai Kembali Blog Lama

Menyambut tahun baru 2019, saya kembali mereset blog pribadi saya ini. Saya bermaksud untuk memulai blog baru lagi. Semua tulisan di blog yang lama sudah saya download untuk back up & saya hapus semua di tampilan online karena saya tidak suka memulai sesuatu yang baru tapi masih ada sisa tulisan yang lama. Lagipula tulisan saya di blog yang lama itu temanya sangat acak, walaupun di blog yang baru ini juga belum tentu tidak acak.

Pada dasarnya saya adalah orang yang kurang suka baca & tulis. Makanya dari pertama saya memiliki domain harykurniawan.com ini, isinya tidak pernah penuh. Karena keinginan untuk menulis itu datangnya jarang sekali. Sekalinya datang, pasti ada keinginan untuk merombak total tampilan web, seperti saat saya menulis postingan ini. Kemudian biasanya setelah ini akan vakum dulu selama beberapa lama untuk kemudian menulis kembali, lalu vakum lagi. Lalu reset blog memulai baru dan begitu seterusnya.

Setidaknya postingan ini bisa dijadikan penanda dimulainya era baru blog harykurniawan.com menyambut tahun baru 2019. Menutup tulisan pertama di blog baru ini, saya mengucapkan selamat berlibur bagi yang sudah berlibur dan selamat menyambut tahun baru 2019.